Vihara Avalokitesvara: Studi Kasus Kehidupan Antar Budaya Islam Tionghoa di Banten

Authors

  • M Fauzaan Abdillah Ilmu Pemerintahan, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

DOI:

https://doi.org/10.37950/ijd.v2i1.34

Keywords:

syarif hidayatullah, multiculturalism, vihara avalokitesvara

Abstract

The establishment of Avalokitesvara Monastery in Banten is a trace of the marriage story of Sharif Hidayatullah and Princess Ong Tien from China. Which is the Grand Mosque and Vihara is a symbol of the multiculturalism and openings of Banten community at that time to immigrants. And the existence of this research also aims to get answers to how the role of Sharif Hidayatullah in the construction of the monastery and also how the treatment of the people of Banten against minorities. The method that the author uses is the Study Library with the approach of Will Kymlicka Multicultural Cultural theory. The result is that the people of Banten are people who are able to accept openness to other realities outside them and are able to acculturate culturally and pluralally in a manner. Proven by the 5-story roof at the Great Mosque of Banten which is designed by the Chinese and the presence of the High Pacinan Mosque. In conclusion, so much the role of Sharif Hidayatullah in the construction of the monastery and prove that the people of Banten at that time have received valuesoutside of reality or multiculturalism.

 

Berdirinya Vihara Avalokitesvara di Banten adalah jejak kisah pernikahan Syarif Hidayatullah dan Putri Ong Tien dari Tiongkok. Yang mana Masjid Agung dan Vihara adalah simbol dari multikulturalisme dan keterbukaan masyarakat Banten kala itu kepada pendatang.  Dan adanya penelitian ini pun bertujuan untuk memperoleh jawaban atas bagaimana peran Syarif Hidayatullah dalam pembangunan vihara dan juga bagaimana perlakuan masyarakat Banten terhadap kaum minoritas. Metode yang penulis gunakan ialah Studi Pustaka dengan pendekatan teori Kewarganegaraan Multikultural Will Kymlicka. Hasil yang didapat adalah bahwa masyarakat Banten adalah masyarakat yang mampu menerima keterbukaan terhadap realitas lain  di luar mereka dan mampu berakulturasi secara budaya serta plural secara sikap. Terbukti dengan adanya atap bertingkat 5 pada Masjid Agung Banten yang di kelurahanin oleh orang Tiongkok dan adanya Masjid Pacinan Tinggi. Kesimpulannya, begitu besarnya peran Syarif Hidayatullah dalam pembangunan vihara tersebut dan membuktikan bahwa masyarakat Banten saat itu telah menerima nilai-nilai di luar realitasnya atau multikulturalisme.

 

Berdirinya Vihara Avalokitesvara di Banten adalah jejak kisah pernikahan Syarif Hidayatullah dan Putri Ong Tien dari Tiongkok. Yang mana Masjid Agung dan Vihara adalah simbol dari multikulturalisme dan keterbukaan masyarakat Banten kala itu kepada pendatang.  Dan adanya penelitian ini pun bertujuan untuk memperoleh jawaban atas bagaimana peran Syarif Hidayatullah dalam pembangunan vihara dan juga bagaimana perlakuan masyarakat Banten terhadap kaum minoritas. Metode yang penulis gunakan ialah Studi Pustaka dengan pendekatan teori Kewarganegaraan Multikultural Will Kymlicka. Hasil yang didapat adalah bahwa masyarakat Banten adalah masyarakat yang mampu menerima keterbukaan terhadap realitas lain  di luar mereka dan mampu berakulturasi secara budaya serta plural secara sikap. Terbukti dengan adanya atap bertingkat 5 pada Masjid Agung Banten yang di desain oleh orang Tiongkok dan adanya Masjid Pacinan Tinggi. Kesimpulannya, begitu besarnya peran Syarif Hidayatullah dalam pembangunan vihara tersebut dan membuktikan bahwa masyarakat Banten saat itu telah menerima nilai-nilai di luar realitasnya atau multikulturalisme.

References

Amalia, Rizkia. (2017). “Masjid Pacinan Tinggi, Hancur atau Belum Selesai ?â€. Program Studi A rsitektur, Sekolah A rsitektur, P erencanaan dan P engembangan Kebijakan, Institut Teknologi Bandung.

Anwar, M. Saeful . (2014). “Kapabilitas Simbolik Politikâ€. Cimahi. Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Achmad Yani

Ayu, N. K. A. (2016). “Pengelolaan Kawasan Situs Kota Kuno Banten Sebagai Destinasi Wisata Budaya Untuk Meningkatkan Pergerakan Wisatawan Nusantaraâ€. Jurnal Destinasi Kepariwisataan Indonesia, Vol 2 No (2), Juni 2016

Cleere, Henry. (1989). “Introduction: The Rationale of Archaeological Heritage Management†. Dalam Henry F.Cleere (ed) Archaeological Heritage Management in theModern World (pp. 1-19). London: Unwin Hyman.

Cortesso, Armando. (1944). “The Suma Oriental of Tome Pires†. London.

Hikmawan, M. D. (2017). Pluralisme Demokrasi Politik di Indonesia. Journal of Governance, 2(2), 223–247. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.31506/jog.v2i2.2678

Hikmawan, M. D. (2020). Consensual Democracy: A Challenge for Differentiated Citizenship. International Journal of Innovation, Creativity and Change. www.ijicc.net (Vol. 11). Retrieved from www.ijicc.net

Heywood, Andrew. (2007). “Political Ideologies (4th Edition)†. Palgrave: McMillan.

Ibrahim. R. (2008). “Pendidikan Multikultural: Upaya Meminimalisir Konflik dalam Era Pluralitas Agamaâ€. Jurnal Pendidikan Islam El- Tarbawi No. 1. Vol. I. 2008

Irhandayaningsi, Ana. “Kajian Filosofis Terhadap Multikulturalisme Indonesiaâ€

Kartidjo, Sartono. (1984). “Pemberontakan Petani Banten 1888â€. Jakarta : Dunia Pustaka Jaya

Kartidjo, Sartono (1977). “Masyarakat Kuno dan Kelompok-ekompok Sosialâ€. Jakarta: Bhatara Karya-Akasara.

Kymlicka, W. (2002). “Kewargaan Multikulural: Teori Liberal Mengenai Hak-hak Minoritasâ€. LP3ES,

Kymlicka, W. (1994). “Individual and Community Right†dalam buku Group Right (Juddith Barker ed.). Canada : University of Torronto Perss

M.A.P. Meiling-Roeflsz. (1962). “Asian Trade and European Influence in the Indonesian Archipelago between 1500 and about 1630†. (124)

Parekh, Bikhu. (2001). “Rethinking Multiculturalismâ€. Harvard

Ruth Abbey, “Timely Meditations in an Untimely Mode“ dalam Ruth Abbey, ed., Charles Taylor, Cambridge: Cambridge University Press, 2004, 1

Simamora, A. R., Hamid, A., & Hikmawan, M. D. (2019). Diskriminasi Terhadap Kelompok Minoritas Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) di Tangerang Selatan. International Journal of Demos, 1(1), 19–37. Retrieved from http://hk-publishing.id/ijd-demos

Sopia, S. Dita. 2017. “Masjid Dan Vihara: Simbol Kerikunan Hubungan Antara Islam Dan Buddha (Studi Kasus Di Kelurahan Banten Kecamatan Kota Serang Provinsi Banten)†. Skripsi. Tidak Di Terbitkan. Fakultas Ushuluddin Dan Filsafat Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah : Jakarta

Suryana, T. (2011). “Konsep dan Aktualisasi Kerukunan antar Umat Beragama†. Jurnal Pendidikan Agama Islam- ta’lim Vol. 9 No. 2 -2011

Susanto. E. (2006). “Pluralitas Agama: Meretas Toleransi Berbasis Multikulturalisme Pendidikan Agama†. Tadris Vol 1 No 1 2006.

Valenijn, F. (1858). “Valentijn, Beschrijving van Groot Djava, ofte Java Major, Amsterdam, 1796†. Ludwig Bachhofer, India Antiqua (1947:280), (253-3)

Yusar, (2015). “Ruang Publik sebagai Pendidikan kesaran Multikulturalisme†. Edutech, Tahun 14, Vol.1, No.1, Februari 2015

Downloads

Published

2020-04-30

Issue

Section

Articles