Memahami Identitas : Studi Kasus Identitas Agama Orang Baduy di Kabupaten Lebak (Analisis Politik Praktis Terhadap Identitas Suku Baduy)

Authors

DOI:

https://doi.org/10.37950/ijd.v3i3.177

Keywords:

masyarakat subkultural, fenomenologi, realitas politik.

Abstract

Abstract

The Baduy community's adherence to pikukuh karuhun (customary rules), especially the inner Baduy in Lebak Regency, Banten Province, uses a representation system, which is represented by Puun (customary leader). Representative democracy is based on the results of a predetermined deliberation. The Baduy do not have close ties to political parties and other public officials. The Baduy community prioritizes and attaches importance to pikukuh karuhun and tribal unity so that there are no divisions caused by political interests. The Baduy do not refuse democracy, but there are only limits with pikukuh karuhun that cannot be violated and must be preserved. This study aims to understand the reality that occurs to the Baduy community in the election process starting from voting activities, the adaptation process which is very different from the Baduy tribe, an understanding of the rights and obligations in elections and the differences in structure and reality from outside the Baduy tribe.

 

Keywords: subcultural society, phenomenology, political reality.

 

Abstrak

Ketaatan masyarakat Baduy terhadap pikukuh karuhun (aturan adat) terutama Baduy dalam di Kabupaten Lebak Provinsi Banten yang menggunakan sistem keterwakilan, yang diwakili oleh Puun (Pimpinan adat). Demokrasi keterwakilan tersebut berdasarkan hasil musyawarah yang telah ditentukan sebelumnya. Suku Baduy tidak memiliki kedekatan dengan partai politik dan pejabat publik lainnya. Masyarakat Baduy lebih mengedepankan dan mementingkan pikukuh karuhun dan persatuan suku agar tidak terjadi perpecahan yang diakibatkan kerana kepentingan politik. Suku Baduy tidak menolak untuk berdemokrasi, namun saja hanya terdapat batasan dengan pikukuh karuhun yang tidak boleh dilanggar dan harus tetap dilestarikan. Penelitian ini bertujuan untuk memahami realitas yang terjadi terhadap masyarakat Baduy dalam proses pemilu mulai dari kegiatan pencoblosan, proses adaptasi yang sangat berbeda dengan suku Baduy, pemahaman tentang hak dan kewajiban dalam pemilu dan perbedaan struktur dan realitas dari luar suku Baduy.

 

Kata kunci : masyarakat subkultural, fenomenologi, realitas politik.           

 

References

Antusiasme Suku Baduy Ikut Pilkada Lebak 2018 - Pilkada Liputan6.com diakses tanggal 27 November 2021 pukul 18.41 WIB.

Desiana, A. (2021). Pemenuhan Hak Politik Warga Masyarakat Adat Baduy. 1–74.

Edwar, A. (2021). Keagamaan Suku Baduy Lebak Banten : Antara Islam dan Islam Sunda Wiwitan. Journal of Islamic Education, 3 (1), 39-54.

Hakiki, K. M. (2011). Identitas Agama Orang Baduy. Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama, 6(1), 61-84.

Hikmawan, M. D. (2014). Politik Perbedaan : Demokrasi dalam Paradoks. Universitas Gdjah Mada.

Hikmawan, M. D. (2017). Pluralisme Demokrasi Politik di Indonesia. Journal of Governance, 2(2), 223–247. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.31506/jog.v2i2.2678

Karman. (2014). Dialektika Masyarakat Baduy Dalam Memaknai Realitas Pemilihan Umum 2014 Dialectic of Baduy Community in Meaning Reality of General Election 2014. 17 No.2, D, 89–102.

Kurnia, A., Sihabudin, A., & Yustianti, F. (2010). Saatnya Baduy bicara: lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung, gunung teu meunang dilebur, lebak teu meunang dirusak, buyut teu meunang dirobah. Bumi Aksara.

Mahpudin. (2019). Demokrasi dan Kebangkitan Politik Identitas : Refleksi Perjalanan Demokrasi Indonesia Pasca Orde Baru. International Journal of Demos, 1(1), 1–18.

Ramadhan, G. (2018). Identitas Dan Gerakan Sosial Di Rumpin. Polinter, 3(2), 1–11.

Riswanda, Hikmawan, M. D., Ramadhan, G., & Nurrohman, B. (2020). Making Sense of The Politics of Recognition : Indicators of Religious Tolerance in Banten , Indonesia. 13(11), 3386–3397.

Downloads

Published

2021-12-31

Issue

Section

Articles